BeritaPendidikan

NGOPI Perdana Paser Education Bahas Polemik Zonasi dan SPMB di Paser

TANA PASER – Paser Education bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Paser menggelar kegiatan perdana Ngobrol Pintar (NGOPI) dengan mengangkat tema “Zonasi Lagi, Ribut Lagi”.

Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi untuk membahas persoalan sistem penerimaan murid baru, termasuk zonasi dan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), yang setiap tahun masih menjadi perhatian dan memunculkan berbagai persoalan di masyarakat.

Ketua Paser Education sekaligus host kegiatan, Sri Ayu Mulyati, S.Pd.,Gr., mengatakan NGOPI digagas sebagai ruang diskusi terbuka untuk membahas berbagai persoalan pendidikan sekaligus menghimpun masukan dan alternatif solusi dari berbagai perspektif.

“Diskusinya cukup menarik karena tidak berhenti pada pemaparan narasumber. Ada sesi tanya jawab yang membuat berbagai persoalan nyata di lapangan bisa langsung disampaikan dan didiskusikan,” kata Ayu, Jumat (28/8/2026), di Tanah Grogot.

Dalam diskusi tersebut, Ayu memandu pembahasan bersama Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Paser, Novenandhana; Ketua PGRI Kabupaten Paser, Jauhari; serta anggota DPRD Kabupaten Paser, Zulfikar.

Ayu menjelaskan, kegiatan perdana NGOPI masih dilaksanakan secara terbatas dengan peserta undangan. Peserta berasal dari unsur pengawas sekolah, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), kepala sekolah, perwakilan 11 MGMP/MGBK Kabupaten Paser, serta guru.

Sejumlah persoalan dan masukan mengemuka dalam diskusi. Di antaranya perbaikan sistem pendaftaran SPMB, pemerataan kualitas dan daya tampung sekolah, penguatan branding serta keunggulan masing-masing sekolah, sosialisasi kepada masyarakat yang lebih masif, hingga perlunya intervensi pemerintah dalam peningkatan kualitas dan pemerataan sumber daya manusia (SDM) guru.

Menurut Ayu, persoalan penerimaan murid baru tidak semata-mata berkaitan dengan mekanisme pendaftaran. Persoalan tersebut juga tidak terlepas dari pemerataan mutu dan daya tarik sekolah.

“Selama kualitas dan daya tarik sekolah belum merata, masyarakat akan tetap cenderung berorientasi pada sekolah-sekolah tertentu dan persoalan seperti ini berpotensi terus berulang,” ujarnya.

Ia berharap NGOPI tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi mampu menjadi ruang yang mempertemukan berbagai persoalan pendidikan di lapangan dengan para pemangku kebijakan.

Melalui forum tersebut, Paser Education juga mendorong lahirnya gagasan dan solusi yang dapat ditindaklanjuti untuk menjawab berbagai persoalan pendidikan di Kabupaten Paser.

“Ini merupakan program perdana Paser Education. Ke depan kami ingin NGOPI menjadi program unggulan yang secara rutin mengangkat isu-isu pendidikan dan persoalan daerah yang relevan dengan masyarakat,” kata Ayu.

Ia menambahkan, Paser Education juga membuka peluang agar NGOPI ke depan dapat diikuti audiens yang lebih luas. Dengan demikian, diskusi mengenai pendidikan tidak hanya berlangsung di kalangan internal, tetapi juga dapat melibatkan masyarakat secara langsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *